Berburu Buku Lawas di Pasar Buku dan Seni Velodrome

Saat akan kembali mengurus roya di kantor BPN, secara tidak sengaja, mataku tertumbuk pada plang bertuliskan “Pasar Buku dan Seni Velodroom” ketika melintasi Velodrome. Sebelumnya pernah dengar tapi belum kesampaian ke sini. Pernah ke velodrome juga hanya sekedar lewat diajak teman yang rumahnya dekat di daerah ini.

Saat itu, deretan kios-kios (di sebelah mananya Velodrom, aku gak tau arahnya hehe) tampak kumuh. Meski cuaca panas namun di situ cukup sejuk. Area kios buku lawas ini dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Ya mesti saja begitu karena memang di sana adalah hutan kota.

Aku masih belum sempat ngobrol banyak dengan penjualnya karena saat memasuki kios secara acak, aku dan suamiku asyik menekuri setiap judul. Meski berdebu, karena pakai masker ya baik-baik saja. Kebetulan kios yang kudatangi ini kurang terawat dan koleksinya macam-macam namun hampir keseluruhannya buku lama. Sempat kutemukan buku-buku berbahasa Belanda, Jerman, selain Inggris.

Hampir 1 jam kami di kios ini. Penjualnya ngobrol-ngobrol di luar dengan sesama penjual dan kami dibiarkan memilih. Ada sekitar 14+1 buku bonus yang kami bawa pulang dengan 200 ribu saja hehe… Entah memang murah atau sedang pandemi begini jadi diberikan.

Yang dipilih kali ini kebetulan buku-buku bacaan anak terbitan Balai Pustaka. Selain itu juga nyari bacaan berbahasa Inggris untuk tambahan bacaan Kaira. Dipikir-pikir iya sih, yang kucari ternyata bacaan untuk bocah semua. Tapi ya tentu kita bisa ikutan baca dong..Biar buku lama, jika belum pernah membaca ya tetap saja secara hakikat, buku itu adalah buku baru.

Lalu ngobrol sebentar dengan penjualnya. Diceritakan, deretan kios buku dimiliki perorangan namun kolektif dijaga bersamaan dengan sesama teman/saudara. Aku menyebut nama seseorang yang sempat kusimpan namanya saat orang ini membuka stand di kegiatan yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Budaya UB beberapa tahun lalu (aku lupa). Aku ditunjukkan nomor kiosnya dan saat kudatangi ternyata tutup.

Random saja kami menyusuri kios-kios lain yang kebanyakan tutup. Kami berhenti di kios yang banyak bukunya kami punya/kenali. Mampirlah lihat-lihat koleksinya. Bagus-bagus namun tetap banyak judul yang familiar. Suamiku memilih biografi Soeharto ini yang dihargai 40 ribu saja. Aku memilih Katsoff, buku yang ingin kubaca lagi karena dulu pernah punya tapi kubakar karena dimakan rayap parah :'(

Jujur saja, saat ke situ, tidak berencana beli-beli dan akhirnya menguras semua isi dompet (termasuk dompet khusus belanja sayur harian yang untungnya kubawa). Suamiku kupaksa segera keluar dari kios ini dan sebelum pergi kok ya masih sempat nanya buku-buku sastra. Beliau memilih The Little Prince edisi bahasa Inggris yang diterjemahkan dari bahasa aslinya, Perancis. Di rumah, kami sudah punya edisi bahasa Indonesianya. Bahkan sejak 2001, aku pernah punya buku itu saat masih bercover hijau namun tidak pernah kembali saat dipinjam teman.

Bapak penjual buku di kios ini menurutku lebih paham buku. Jadi bukunya dihargai lebih daripada yang pertama. Tapi meski begitu tetap saja masih murah loh 🙂 The Little Prince yang masih bagus dan terbitan luar dibanderol 30 ribu! Beliau juga bercerita kalau pedagang di sini dulunya pindahan dari depan Stasiun Kota Malang. Kusebut nama Mas Nashir yang dulu juga buka lapak buku yang sering kudatangi saat masih mahasiswa, beliau mengenalinya. Kami pun berpamitan untuk segera kembali ke BPN, tempat tujuan utama berada di area ini.

“Kapan-kapan kita ke sini lagi ya, Bun..Plesir,” kata suamiku. Jaraknya memang cukup jauh dari rumah kami, jadi kudu diniati mau pergi ke sini. Ya, kami berniat kembali, tentu setelah pandemi tak ada lagi.