Salahkah “Me Time” Saat Sudah Jadi Ibu dan Istri?

Pernahkah kalian berpikir, kapan waktunya memikirkan diri sendiri? Hei, ini bukankah terdengar egois karena mengutamakan diri sendiri?Dalam konteks sebagai keluarga, kita punya banyak predikat. Ya jadi ibu, istri, teman main, dan sebagainya yang masing-masing memiliki konsekuensi masing-masing.

Lalu pernahkah kalian duduk diam merenung, memikirkan apakah sebagai diri pribadi, hak kita telah terpenuhi? Saat-saat dimana kita bisa bercengkrama dengan diri sendiri dan melakukan hal yang kita sukai tanpa gangguan sama sekali. Hanya bersama dan untuk diri kita sendiri. Orang menyebutnya “Me Time”.

Ini ceritaku sendiri. Setelah membaca Al Qur’an habis salat Subuh, adalah waktu yang kutemukan nyaman sekali untuk me time. Membaca apa saja baik buku atau bahan yang sedang menjadi minatku, blogging, walk blogging, atau sekedar bermedsos. Rasanya saat itulah ide-ide di kepalaku mudah sekali dituliskan.

Tapi tak sadar, hari semakin terang. Anak-anak mulai bangun dan minta makan. Rutinitas pagi dimulai. Rasanya ingin lanjut tapi panggilan predikat lain menunggu. Menemani anak belajar atau aku punya tanggung jawab mengikuti kegiatan organisasi yang harus ditunaikan. Tak terasa azan Dhuhur tiba dan separuh hari telah berjalan.

Saat itu tubuh sudah meminta haknya untuk istirahat. Ikut tidur tapi tidak jenak. Apalagi kadang ada masanya anak-anak tidak tertib tidur siang. Bawaannya jadi mudah marah.

Lalu Maghrib datang, rutinitas petang dimulai hingga akhirnya pukul 21, saatnya tidur. Nyatanya aku ikut tidur. Pernah mencoba bertahan, yang terjadi tidak ada hasil yang didapat. Jika menulis, tulisan gak jadi. Jika membaca, adanya mata mengantuk. Apalagi hingga dini hari. Akhirnya bangun kesiangan dan merusak ritme rutinitas.

Soal rutinitas sebenarnya aku sudah mulai beradaptasi. Kalau dulu, rutinitas berdasar pada waktu atau jam. Tapi sepertinya itu melelahkan. Yang sedang kulakukan sekarang adalah rutinitas berdasarkan kegiatan. Mau jam berapa saja dilakukan asal terpenuhi yang biasanya dilakukan, itu sudah cukup. Misal makan, dulu harus masak jam sekian agar sarapan jam sekian. Sekarang, jam berapa pun aku masak, asal anak-anak di pagi hari sudah kenyang, tidak jadi soal. Atau anak belajar jam berapa pun asal belajar ya sudah. Yang ini karena bapak ibunya juga harus mengerjakan hal yang berkaitan dengan orang lain dan sifatnya wajib dikerjakan saat itu juga.

Tapi meski demikian, tetap ada disiplin waktu misalnya ibadah. Kami mengusahakan salat berjamaah di awal waktu, mandi di jam seharusnya, dan tidur (siang dan malam) pada waktunya .

Bagiku, ternyata me time itu sangat penting. Rasanya jika tidak melakukan yang aku sukai, seperti tidak melakukan apa-apa. Lha tapi kamu kan masak, menemani anak main, dsb? Yang seperti ini bukan me time melainkan menjalankan kewajiban baik sebaik ibu, istri, orang dewasa di rumah. Kewajiban ya kewajiban. Hak ya hak.

Yang perlu dilatih terus adalah manajemen waktu agar semua predikat yang disandang ini seimbang. Rasanya tidak pantas jika terlalu mendahulukan kesenangan pribadi di saat sudah menerima konsekuensi berkeluarga. Tapi juga menjadi tidak adil pada diri sendiri jika melulu mendahulukan kepentingan orang lain meski itu suami dan anak sendiri.

Ya, aku memilih begini. Ini juga kupikir bisa mengajarkan pada seluruh anggota keluarga jika perempuan yang sudah jadi ibu juga boleh dan bisa jadi dirinya sendiri. Tidak ada tuntutan dan beban setiap ibu harus mencurahkan SEMUA hal pada keluarganya, tanpa mengambil porsi cukup menjadi dirinya sendiri. Aku tidak mau sekedar menjadi penghamba di seluruh sisa hidupku walau diatasnamakan pahala atau pengorbanan.

Nyaman bagi diri sendiri itu penting. Saat tidak merasakan kenyamanan dalam rumah, diri menjadi lebih mudah insecure, dalam hal apa saja. Lebih mudah kuatir pada masa depan, atau tidak mudah memaafkan/melupakan masa lalu. Me time membantu melewati hal itu semua, perlahan sesuai porsi.

Aku jadi ingat materi Workshop Mother Culture bersama Mbak Ellen Kristi yang pernah kuikuti dulu. Bertumbuh (growing up). Ini adalah mantra yang harus selalu ditanamkan pada diri setiap perempuan yang sudah jadi istri dan ibu. Tidakkah kita lihat realitas (juga diriku sendiri), kita seringkali stagnan diam di tempat, begitu-gitu saja, tidak ada keinginan apa-apa selain melihat anak-suami sehat bahagia sejahtera sukses dalam pekerjaan dan belajarnya. Ya tidak salah dan memang sebaiknya begitu, namun jangan lupa ada diri sendiri yang perlu ditumbuhkan.

Tidak ada yang salah saat menjadi diri sendiri. Jangan merasa berdosa jika suatu waktu kita duduk menikmati secangkir teh mint sambil membaca buku, berlatih yoga, atau cukup lama sendirian berkebun di sepetak halaman depan rumah, atau pernah kulihat teman yang keluar ngopi atau ke bioskop sendirian saja. Di rumahku, yang krusial adalah makanan. Asal sudah tersedia, aku lebih tenang menjalankan me time tanpa diributi anak-anak yang kelaparan jika tidak ada masakan hehe..

Hidup berat dan melelahkan yang kita jalani, kadang membuat kita tanpa jeda untuk sekedar berefleksi. Kita jadi lupa memberi “makan” pada jiwa kita yang kering kerontang. Selain membaca kitab suci, kita tak sempat membaca buku-buku berkualitas (yang membuat kita terkesan dan berpikir ulang setelah membacanya), menjalankan hobi, atau melakukan hal-hal lain yang kita sukai sejak dulu sebelum menikah. Tanyakan lagi pada dirimu sendiri, apa tujuan hidupmu. Apa yang ada di hadapanmu, itulah yang dijalani dan syukuri sehingga terciptalah kebahagiaan yang kita tentukan sendiri kualitasnya. Artinya, kebahagiaan bukan berdasar nilai dari orang lain. Kebahagiaan itu kita buat sendiri, terutama bisa terus bertumbuh. Growing up adalah menjadi versi terbaik diri sendiri setiap hari.

Bertumbuh adalah hal baik yang perlu diciptakan alias tidak natural (unnatural). Pada dasarnya, manusia secara natural/punya kecenderungan melakukan entropi yaitu pergi menuju ke keadaan yang lebih rendah. Oleh mbak Ellen digambarkan, hidup laksana tangga berjalan menurun dan entropi manusia adalah berusaha selalu mengikuti alur tangga berjalan yang menurun. Entropi ini dikenali antara lain sebagai rasa malas dan takut dan kerap “mengganggu” proses bertumbuh.

Setidaknya, dengan kita paham kita berhak pula untuk bertumbuh, kita sedang mendidik diri sendiri menjadi lebih baik. Saat kita lebih baik, kita akan lebih bermakna dan bermanfaat bagi anak dan suami, syukur-syukur untuk lingkungan kita dimana pun berada. Teruslah ciptakan me time-mother culture yang pada akhirnya menumbuhkan diri sendirimu, Bu… Love yourself an spread happiness 🙂