Keinginan, Apakah Sumber Penderitaan?

“Kalau aku gak punya keinginan pengen beli apa-apa, apa aku normal? Kan ada tuh orang yang pengen beli PS 5 atau barang lainnya,” kata suamiku, dalam sebuah obrolan leyeh-leyeh di kasur suatu senja. Dari situ, aku tergelitik meneruskan jadi pembicaraan.

Kuingat-ingat lagi, suamiku ini memang gak punya koleksi “mainan” kecuali sepatu. Dulu rasanya sih bagiku gila-gilaan. Setiap ada uang lebih, larinya beli sepatu. Kok ya ngerti aja mana edisi sepatu yang limited. Lakiku ini juga gak tertarik otomotif (karena gak bisa), mainan diecast, atau mancing ikan 😛 Kalau aku sih saat ini berkeinginan kalau punya duit lagi, buat beli saham-saham sultan lah.. Yang blue chip semua sektor maunya kuborong banyak-banyak 🤣🤣🤣 Tapi, sama dengan suamiku, aku juga nggak punya keinginan misalnya beli baju (karena masih banyak sekali yang layak pakai walau gitu-gitu aja modelnya), ganti kendaraan (karena masih nyaman dipakai dan baik-baik saja), atau merenovasi rumah jadi lebih instagramable, serta keinginan lainnya yang sifatnya lipstik semata. Entahlah, gak kepengen apa-apa.

Inilah yang bikin hidup ayem, tentrem, gak kemrungsung karena gak kepingin apa-apa. Kontras sekali dengan pengalaman saat tidak punya uang tapi pengen beli ini itu. Dan ini nyata adanya, saat gak punya uang, keinginan beli makanan di luar rumah mendadak lebih besar dan membara. Padahal pas ada uang ya biasa aja tuh…

Sejauh ini, yang kami punya sekarang rasanya sudah sangat cukup. Ditambah rumah sudah lunas KPR, rasanya tidak ada yang menjadikan kurang dalam hidup ini. Makan keseharian juga seadanya. Menabung seperti seharusnya. Bersedekah seperti selayaknya. Saat ada uang lebih, sesekali kami pesen makanan/jajanan dari luar, sebagai aktivitas refresing di masa pandemi. “Tapi kalau ada uang lagi, aku pengen beli banyak buku di Gramedia,” lanjut harap si teman tidurku ini. Yooo… Kalau ini bukan keinginan tapi kebutuhan sekeluarga. Seringnya malah mengada-adakan jika buku ini sudah masuk kategori bahan bacaan/belajar anak.

Aku jadi ingat kata Buddha jika keinginan adalah sumber penderitaan (dukkha). Uang banyak, jabatan tinggi, dipuja orang sebagai influencer, aset dimana-mana, menggunakan barang “branded, disebut orang cerdas, dan keinginan lain nyaris membenamkan kita dalam lumpur terdalam kenistaan hidup dan melupakan esensi kebahagiaan itu sendiri. Orang mampu berbahagia tidak karena sebab itu semua melainkan berhasil mensyukuri apapun dalam hidup, pahit sekaligus manisnya.

Hidup sederhana, mudah berbagi, dan mampu rendah hati adalah kunci menjalani hidup penuh kesyukuran. Rasanya mustahil mampu bersyukur jika selalu melihat ke atas untuk urusan duniawi namun melihat ke bawah untuk urusan ukhrawi. Aku tidak pernah berniat untuk pamer harta karena tahu seperti pepatah bilang “di atas langit masih ada langit”. Malu lah mau pamer seolah harta kekayaannya banyak padahal bukan apa-apanya Crazy Rich Asians. Tapi percayalah bawa sikap kunci sedemikian di atas bisa terus kita latih dan mengasahnya menjadi bagian karakter kita.

Jadi, sebagai pasangannya, aku cukup berbangga suamiku sejauh ini berkeinginan normal-normal saja, dalam norma keluarga kami tentunya. Kepingin beli buku, bukan jam mewah, sepatu langka, atau sepeda hype, adalah keinginan wajar. Dan aku berterima kasih pada suamiku yang tetap menerima style-ku yang berpatokan segala kebendaan diukur pada fungsinya. Karena aku yakin, uang yang dibelanjakan untuk membentuk gaya hidup mevvah, tidak akan pernah ada habisnya. Pada hari ini, tidak ada yang salah dengan hidup sederhana, pun dalam berkeinginan, Walau keinginanku sekarang cuman satu, bisa beli saham banyak-banyak biar sering-sering cuan..Halah 😀