Pengalaman Rawat Inap di Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM) di Masa Pandemi (Part 1)

Pernahkah kalian merasakan sakit yang begitu lama? Lalu ada kekhawatiran saat harus mendatangi fasilitas kesehatan. Cerita ini adalah pengalamanku saat opname di RS UMM, rujukan dari Faskes 1 Klinik Bunga Melati (KBM) Panjaitan sebagai rangkaian dari penggunaan BPJS Kesehatan. Sejak kuposting foto saat akan pulang dari rumah sakit, banyak teman yang bertanya bagaimana ceritanya selengkapnya, yang terbagi dalam dua bagian tulisan.

Awal Mula Sakit

Tubuhku demam naik turun sepanjang hari ditambah sakit di sekujur badan, terutama di kaki. Aku nyaris tidak bisa berdiri. Jalan ke kamar mandi yang tak ada dua meter jaraknya, rasanya susah sekali. Aku harus memegangi satu tembok ke tembok lain untuk sampai ke sana.

Kurasakan, ada benjolan sebesar kacang tanah di selangkangan kananku. Kupikir, “oh ada urat yang membengkak” sehingga kuputuskan memanggil tukang pijat langganan. Sebelum itu, opsi lain adalah mendatangi tukang urat tapi suamiku tidak sepakat karena di masa pandemic begini mendatangi area kerumunan.

Kenapa berpikir salah urat? Kuingat-ingat lagi dua minggu sebelumnya, aku keluar mengantar anakku les piano naik motor. Karena kami jarang keluar rumah, saat distarter pakai kaki, motor susah sekali nyala. Kebetulan hari itu juga mampir beberapa tempat seperti belanja frozen food, makanan kucing, juga mengambil uang di ATM. Prinsipnya, sekalinya keluar sekalian jalan kemana-mana. Jadi kupikir, benjolan ada karena terpicu menyetarter motor pakai kaki ini dan kebetulan yang ada benjolan ini di kaki kanan saja.

Mendatangkan tukang pijat juga sebenarnya berat dan kami tahu risikonya. Tapi saat kutanyakan pada ibu tukang pijatnya soal bagaimana protokol kesehatan yang dijalankan, akhirnya aku setuju. Tapi yang jelas, aku merasakan kesakitan hebat. Sepertinya belum pernah aku merasakan yang seperti ini.

Ingatanku melayang, sejak kapan kurasakan benjolan ini ada di sana dan tubuhku menjadi sakit semua. Saat very long weekend akhir Oktober 2020 (libur Maulid Nabi), di saat kulihat via status kontak WA aneka perjalanan wisata mereka, aku sedang terkapar di kasur. Hanya turun dari tempat tidur saat ke kamar mandi dan wudhu. Semua aktivitas kulakukan di kasur dengan bantuan dari suamiku terutama untuk mengambilkan makanan, menyuapi, dan mengembalikan kembali piringnya. Juga dibantu anakku  untuk mengambilkan segala sesuatu yang kubutuhkan.

Setelah dipijat, rasa sakit di tubuhku sedikit berkurang namun demam masih terus kurasakan. Kulihat benjolan semakin membesar, tepatnya memanjang. Sakitnya masyaallah 🙁 Lalu aku panggil tukang pijat kedua kali, tepat satu minggu dari pijat pertama. “Ini klanjeren, Mbak,” terang tukang pijatnya. Katanya pembesaran kelenjar. Seketika itu aku mikir, wah kalau bicara kelenjar, berarti bukan otot nih yang bermasalah.

Lalu aku tanya di sebuah grup komunitas apa itu klanjeren. Lalu temanku dokter gigi sesama ortu homeschooler menjawab japri jika itu adalah infeksi kelenjar getah bening. Istilahnya adalah limfadenitis. Beliau mengingatkan, ada juga istilah limfadenoma, ini yang berbahaya karena itu artinya ada keganasan/kanker.

Karena penasaran dengan yang kuderita, lalu gugling dan begini yang kupahami. Jadi kelenjar getah bening/limfa adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh. Ketika imunitas tubuh menurun makan kelenjar ini bekerja melawan bakteri/virus sehingga tubuh demam dan timbul benjolan, yang sebenarnya normal saja. Kelenjar ini berada di selangkangan, ketiak, dan leher. Coba deh diraba tempat tersebut saat kalian kecapekan atau demam, pasti ada benjolan, terutama di leher.

Periksa ke Dokter

Karena tak kunjung berkurang dan curiga bukan masalah urat, di minggu ketiga (9/11), aku ke dokter faskes 1 di Klinik Bunga Melati Panjaitan. Dokter memberi penjelasan jika bengkak itu adalah infeksi tetapi masih belum  bisa mendeteksi itu apa karena masih bengkak dan keras. Obat yang kuterima adalah antibiotic, vitamin, dan pereda nyeri dan demam. Setelah obat habis diminta datang kontrol kembali.

Minggu keempat (16/9), kudatangi faskes KBM kembali untuk kontrol. Sejak minum obat dokter, memang demam dan nyeri sekujur tubuhku berkurang. Malah tidak demam lagi tapi benjolan masih ada dan rasanya tambah memanjang dan membesar. Dokter kali ini mendiagnosis other benign neoplasma of connective and other soft, tissue unspecified dan dirujuk ke faskes tingkat 2 yaitu dokter spesialis bedah umum.

Mendengar dokter bedah, aku sudah mulai mau nangis. Sama suamiku malah diolok-olok untuk siap-siap operasi. “Enggak-enggak…ke dokter bedah kan ya gak mesti dibedah,” ujar suamiku sok menenangkan. Jujur, sepulang dari periksa, rasanya aku ngedrop sekali secara mental.

Soal RS rujukan, ada empat pilihan yaitu RS Aisyiah, RS Unisma, RSUB, dan RS UMM. Pengin ke RS Aisyiyah awalnya tapi karena letaknya jauh sekali dari rumah, rasanya males. Tinggal tiga pilihan dan kami memutuskan memilih RS UMM yang kupikir tempatnya lebih luas. Jaman pandemic begini, space lebar jadi sangat penting. Tapi memang kami sempat tanya ke dokter umum di faskes 1, siapa kira-kira dokter bedah umum yang direkomendasikan, karena kami sama sekali tidak punya kenalan/informasi sebelumnya.

Mendatangi Rumah Sakit

Karena banyak hal yang perlu intensif dikerjakan dan kebetulan tanggal 19 November, aku menjadi moderator diskusi KPuK (Koalisi Perempuan untuk Kepemimpinan) yang sudah direncanakan jauh-jauh hari, baru keesokan harinya aku ke RS UMM untuk memeriksakan diri ke dr. M. Aleq Sander, M.Kes, Sp.B, FINACS . Aku ke sana setelah Maghrib, mengambil jadwal periksa malam karena kalau siang pikirku akan menabrak jam jumatan. Kalau mau cek jadwal beliau juga dokter lain yang praktik di RS UMM, silakan lihat ke sini.

Saat giliranku diperiksa tiba, dokter cuma melihat dan bilang: “Ini harus segera dioperasi.” Aku dan suamiku kaget dong…”Kapan waktunya, Dok?” tanya suamiku. Kami pikir minggu depan lah… “Besok ini, harus secepatnya,” jawab dokternya dengan santuy.

Mataku memerah. Panas rasanya pengen nangis . “Silakan dipikirkan lagi, tapi ini sudah parah dan harus dioperasi. Kalau pun saya beri obat, hanya akan mengurangi nyerinya saja tapi penyakitnya masih ada,” lanjut dokter yang kelihatannya suka humor ini.

Lalu kami keluar sebentar dan diskusi cepat untuk memutuskan apakah mengikuti saran dokter untuk operasi besok. Mengingat dokter sudah bicara demikian dan yang sudah kurasakan hampir sebulan itu, akhirnya aku setuju dan suamiku kembali ke ruangan praktik dokter menemui perawat untuk mengetahui alur administrasi dan perawatan selanjutnya.

Kebetulan saat itu, kami bawa anak-anak karena kami pikir, periksa dokter cuma sebentar dan pulangnya mau mampir ke Superindo Tlogomas. Kami semua nyaris tidak pernah keluar rumah dan sekalinya keluar mau memanfaatkan waktu itu. Di saat ayahnya mengurus prosedur, aku mulai menyampaikan kabar mau operasi ke Kaira, sambil mewek. “Bunda yang kuat ya…Semangat!” balas si sulungku sambil peluk dan pukpuk punggungku.

Aku dan anak-anak mengikuti di belakang suamiku mendatangi lantai 1 untuk bertanya tentang prosedur persiapan operasi dan ketersediaan kamar. Kebetulan kamar kelas 1 sesuai jatah kami, sedang terpakai semua dan hanya tersedia kelas 2. Nanti jika sudah kosong, akan dipindahkan ke kelas 1. Buatku tidak ada masalah soal itu. Anak-anak aku tinggal di luar ruangan yang tidak banyak orang. Alhamdulillah anak-anak sangat kooperatif saat diminta tetap tenang di tempat yang kami tentukan.

Untuk operasi, kebetulan memang ada jadwal yang belakangan aku tahu seperti marathon, untuk esok hari jam 10. Jadi dalam satu waktu yang berdekatan, dokter akan sekaligus mengoperasi beberapa orang.

Menyusun Rencana Tepat dan Bertindak Cepat

Sembari menunggu proses administratif tes rapid di ruangan depan tempat periksa dokter bedah di lantai 2, aku segera menyusun rencana. Biar hati kalut tapi pikiran diusahakan tidak semrawut. Kutelepon Mbak ART agar datang menginap di rumah dan kusampaikan apa yang terjadi dengan mendadak ini.  Sebelum pulang, aku dites rapid dan sekalian ke ruang administrasi rawat inap lantai 1 di sebelah IGD untuk mendaftar sekaligus mendapat kartu identitas pasien dan penunggu di RS. Semua hal administratif ini, suamiku yang handle. Kali ini, aku salut dengan ketangkasan beliau ini wkwkkk…Biasanya kan apa-apa: Ban, Bun 😀

Kupikirkan kembali rencana dalam perjalanan pulang seperti beli masker non medis sekali pakai yang sekiranya cukup untuk berdua selama di RS, mengemas barang apa saja yang sekiranya butuh dibawa terutama baju yang nantinya tetap mudah untuk jalan masuk keluar tangan berinfus tapi harus terusan karena aku masih belum bisa pakai celana, botol besar berisi air minum, dan ambil uang cash untuk dibelanjakan mbak ART saat kami di RS, termasuk mau pakai sandal jepit saja yang bisa dipakai di kamar mandi 😀

Gagal sudah rencana ke Superindo Tlogomas dan akhirnya mampir beli tahu campur. Kami semua kelaparan. Karena ada rantang di dalam mobil, jadi kami ngrantang beli tahu campur. Penjualnya seperti takjub aku bawa rantang. “Hare gene bawa rantang jadul?” paling itu yang dipikirkan penjualnya xixixii Gak papa..demi gak bingung dan bersalah membuang bungkusnya kan?

Selama perjalanan pulang, kuulang kembali apa yang seharusnya anak-anak lakukan tanpa kami selama perkiraan dua hari ke depan. “Kata dokternya, hari Minggu, Bunda mungkin boleh pulang, Dek,” kataku pada si bungsu.

Sampai rumah, semua bebersih, ganti baju dan makan malam dilanjutkan sikat gigi, wudhu dan salat Isya. Kuantar mereka tidur. Kedua anakku seperti sedih tapi kuyakinkan dan minta didoakan semua proses besok lancar. Dan baiknya, mereka tidak ada yang drama, seperti bisa mengerti dan menerima kondisi ibunya. Setelah mereka lelap, kulanjutkan packing. Suamiku melanjutkan pekerjaannya karena yang terjadi hari itu di luar perkiraan. Kuusulkan saja untuk membawa meja lipat bocah agar bisa melanjutkan pekerjaan di RS.

Rawat Inap di RS UMM

Hampir pukul 23, kami baru keluar rumah menuju RS UMM. Lalu lintas menuju ke sana tidak terlalu padat tapi masih ramai karena itu adalah Jumat malam. Malang-Batu jelang week end nyaris tidak pernah sepi. Setelah parkir mobil lalu kami menuju ruang pendaftaran rawat inap, menunggu sebentar dan aku diantar satpam ke resepsionis kamar perawatan kelas 2. Oya, sebelumnya kusampaikan ke suamiku kalau aku mau pakai kursi roda karena benjolanku sudah semakin sakit kurasakan.

Sampai sana, aku dipakaikan gelang berisi informasi pribadi. Termasuk diberi tanda khusus karena aku sempat menjawab pernah gatal-gatal sedikit saat minum amoxcilin. Sampai kamar, cuci tangan dan kaki lalu merebahkan diri di kasur dan suamiku kembali ke mobil mengambil barang-barang kami.

Mulailah drama yang paling kutakutkan, pemasangan jarum infus. Sejak pertama kali, aku dibantu perawat pria. Baik kok, Cuma mungkin masih kurang terlatih atau bagaimana, pemasangan infus yang pertama gagal. Kulihat punggung jariku masih tertancap jarum tapi tidak mengeluarkan darah, aku jadi semakin ngeri. Menangis, itu yang bisa kulakukan.

Lalu datanglah perawat berikutnya. Kali ini perempuan. Kusampaikan padanya kalau aku bisa menahan sakit tapi memang sangat ngeri melihat jarum. Aku minta waktu untuk mengatur nafas dan akhirnya lancar saja saat jarum infus dipasang dan sekaligus pengambilan sampel darah. Kemudian, kami dijelaskan tentang prosedur sebelum operasi. Aku diminta mulai puasa makan dan minum dari jam 2 dan operasi dijadwalkan keesokan pagi pukul 10 (21/11).

Lanjut ke part 2 di sini 🙂

Facebook Comments