Pecahkan Mitos, Semua Orang Bisa Berkebun

“Kata orang, tanganku panas, jadi kalau nanam pasti mati”. Sesuatu yang sounds familiar gak sih? Aku sering sekali mendengar atau menerima komentar begini saat urusan tanam-menanam, dalam berbagai kesempatan baik saat ngobrol langsung atau setelah posting tanaman di medsos.

Mbak Sri , ART di rumah, bilang tanganku “dingin” hanya karena sering melihatku melempar aneka biji-bijian ke tanah lalu tumbuh. Ya memang sih, aku pernah menanam bunga Vinca dari biji, tancap langsung sereh, atau menyemai sukulen dari potekan daun. Tapi aku kok gak percaya ya..Bagiku tangan panas atau dingin itu mitos.

Biji mangga dan alpukat yang sengaja dilempar saja ke halaman tapi malah tumbuh

Percaya deh, jika menanam itu percampuran antara paham faktor teknis seperti sinar matahari yang cukup, pengairan yang tepat, media tanam yang sesuai, pemupukan jika perlu dan faktor kesabaran menikmati prosesnya plus cukup pengetahuan/ilmunya mengenai tanaman itu sendiri, pasti akan bisa! Lama-lama akan bisa mempelajari cara memperlakukan tanaman.

Tidak semua yang kutanam berhasil atau bahkan aku masih sering lupa atau tidak tahu sama sekali, jenis tanaman apa yang sedang kupelihara. Hasrat menanam pun pernah tidak terkendali karena saat itu masih berprinsip “menanam segala sesuatu yang bisa dimakan”. Jadi saat itu nyaris tidak berniat menanam bunga dan selalu nanya “kenapa sih orang suka menanam bunga yang notabene hanya bisa dinikmati mata saja?’ Sungguh nyinyir dan belum mendapat hidayah hahaa…Bahkan sempat terjadi, di 2017, saking bersemangatnya semua tanaman ingin ditanam, sampai-sampai tidak terawat dan halamanku pernah seperti hutan! Di sana Markisa yang menjalar ke pohon Kelor dan Pucuk Merah. Di sebelah kanan ada pohon Pepaya dan daun pepaya jepang.

Hutan atau halaman?

Apalagi di masa corona begini, aktivitas berkebun walhasil menjadi booming sekali. Tanaman dari famili Araceae dengan genus seperti philodendron, alocasia, anthurium, monstera, dan caladium (keladi) dengan aneka species menjadi naik daun. Yang lagi diburu sekali sekarang ini seperti monstera deliciosa atau anthurium christallinum si kuping gajah batang kotak yang katanya jadi naik harga. Hati-hati dengan fenomena bubble economy ya temans…

Menurutku, punya tanaman di rumah itu penting banget, sekecil atau sesedikit apapun. Selain dari segi estetika, kondisi rumah terlihat lebih segar dan hijau, tanaman turut menyediakan oksigen bagi kita. Bahkan pada beberapa tumbuhan, mampu menambah debit air dalam tanah. Alasan inilah yang sering kugunakan jika ditanya, kenapa sih kok mau-maunya menanam bunga yang gak bisa dimakan dan hanya dilihat. Jangan lupa lo, kita hidup dalam ekosistem rantai kehidupan. Terutama yang tinggal di perkotaan, tanaman bunga dan buah mampu mengundang banyak serangga seperti kumbang dan kupu-kupu termasuk burung. Tau kan sumbangsih mereka bagi kehidupan di alam semesta? Contohnya kupu-kupu. Ia membantu proses penyerbukan pada bunga dan tanaman lain sehingga menghasilkan biji, bakal kehidupan baru.

Bertanam ini juga telah menjadi hobby baruku “yang serius” sejak awal 2019. Tapi jangan salah, sejak punya anak pertama, aku sudah mulai bertanam loo… Hanya tidak intensif karena memang menjadi kegiatan di sela-sela libur ngantor. Saat menanam, cari infonya dari internet, tanya-tanya teman yang suka menanam, atau juga main feeling. Jadi saat kulihat daun menguning, kucek dulu itu kekeringan atau terlalu banyak air. Jika terlalu banyak air, aku pindahkan ke tempat yang relatif banyak terpapar sinar matahari, begitu sebaliknya. Sehingga, karena sudah dapat hidayah, aku berkebun bunga. Tanaman lawas edible yang masih dipertahkan hingga kini adalah pohon kelor yang kira-kira usia pohonnya seumuran Mikhail (5 tahunan).

Pohon Kelor, pojok kiri atas

Sedangkan menanam sayuran dan toga (tanaman obat keluarga) adalah upaya menuju ketahanan pangan keluarga. Minimal tanamlah tanaman yang sering digunakan seperti cabe, tomat, seledri (walau agak lama tumbuh) ditambah sereh, kunyit, atau kencur. FYI, cabe merah dan rawit adalah salah satu komoditas pangan yang mempengaruhi inflasi. Masih banyak dari kita yang suka makan pedes tapi tidak diimbangi dengan waktu panen yang tepat dari petani maka bikin harga melambung. Jadi, mulailah menanam dan kalau emang doyan pedes, sebanyak mungkin punya tanamannya deh haha.. Tanaman cabe rawit begini, gampang tumbuh dan dari pengalamanku, bisa sampai tiga kali panen loh.. Lumayan kan gak perlu sering beli cabe. Idealnya mungkin kita bertanam subsisten untuk memenuhi pangan sendiri. Tapi setidaknya mengambil peran “grow your own food”masih mending daripada tidak menanam apa-apa sama sekali.

Jika memang berniat berkebun, mulailah dari segala sesuatu yang ada di sekitarmu. Jangan terlalu maksa diada-adakan. Misal ada cabe yang mulai membusuk, sebar saja bijinya di pot atau wadah bekas yang dipunyai seperti botol plastik, ember bekas, kaleng biskuit, atau pouch bekas minyak goreng. Paling tidak sekadar beli media tanamnya dulu atau jika mampu meracik sendiri karena bahannya ada juga bisa. Nanti jika sudah konsisten dan berhasil, pasti akan merambah nambah pada tanaman lain. Ada banyak informasi seputar menggunakan bahan bekas di internet yang bisa kita manfaakan kembali.

DItanami sesuai kebutuhan walau berada di lahan terbatas

Bagitu juga bunga ya, jika mampu dan mau, ya beli yang sudah jadi dan tinggal pasang di rumah. Pilih tanaman yang cukup tahan lama dan mudah dirawat. Tapi jika ingin menikmati proses berkebun itu sendiri, bisa menanam mulai dari anakan tanaman teman yang sudah banyak dan gampang ditumbuhkan seperti aneka sirih-sirihan (pothos) atau mulai menyemai dari biji. Meski belum banyak, untuk tahap awal, melihat tanaman kita tidak mati, itu senengnya luarr biasa.. Aku termasuk tipikal orang yang suka menanam sejak dari kecil. Yang kutanam di foto berikut ini, terutama aneka sirih-sirihan, adalah hasil perbanyakan sendiri dan sedang proses dibiakkan. Melihat mereka bisa tumbuh (walau rasanya pelan, ini sudah bisa membuat mood-ku membaik saat sedang BT hehe

Tidak perlu semuanya beli, asal sabar, kita akan punya banyak tanaman hasil perbanyakan sendiri

Atau jika mau menerima tantangan lain, rawatlah sukulen dan kaktus. Pada pengalamanku sih, awal setahun lalu berkebun bunga, sukulen dan kaktusku lama-lama mati. Padahal ya perasaan gak kebanyakan air atau sebaliknya. Mana belinya yang bagiku mahal lagi hiks..Tapi ya sudahlah. Sekarang sudah punya lagi dan doakan awet yaa hehe…Ini kaktus yang dipilih anak-anakku saat berkunjung kembali ke salah satu gerai bunga hits di Kota Batu.

TIdak harus mahal untuk bawa pulang kaktus lucu begini

Aku malah percaya bahwa berkebun/menanam tanaman itu menular. Percaya deh ๐Ÿ™‚ Beberapa teman yang terlihat sering melihat status postingan tanamanku, lambat laun mulai merawat tanaman. Awalnya mengagumi, tanya-tanya nama tanamannya, beli dimana, dan akhirnya bagaimana cara merawatnya. Aku seneng loh kalau ketemu yang begini. Juga gembira melihat postingan tanaman teman lain terutama yang tanaman sama tapi miliknya lebih subur makmur. Tidak segan aku bertanya tipsnya. Termasuk saat ketemu hama. Wah ini tantangan betul. Penginnya, sebisa mungkin di rumahku minim zat kimiawi baik untuk pupuk dan pemberantas hama. Kupikir, kalau terlalu banyak mengasup hal yang berbau kimia (sementara hidupku tak murni lagi) tidak akan bagus juga.

Jadi, selagi memungkinkan, silakan memulai berkebun dengan semampunya. Ambil energinya dan nikmati prosesnya. Tidak usah merasa terbebani dengan aneka ekspektasi. Jikalau telah terkoneksi dengan aneka tanamanmu, pasti tidak akan mudah membiarkan mereka mati. Markibun: mari kita berkebun!