Menemani Anak Menyadari Kewajiban Beribadah

Semalam, setelah sholat Isya, kami masih duduk-duduk di atas sajadah. “Kak, kenapa sih kok bisa kuat tahan puasa selama satu bulan penuh, gak ada bolongnya, termasuk sholat lima waktu juga ngaji (baca Al Qur’an) juga gitu?” tanya ayahnya penasaran pada anak gadis 8 tahun ini.

Si bocah ini dengan lugunya menjawab: “Kalau di keyakinan lain, mungkin beda caranya. Tapi aku sebagai orang Islam, kewajibanku ya sholat ya puasa ya ngaji. Itu kan tugas kita beribadah pada Alloh. Memang sih, aku kadang males-malesan tapi aku harus mengerjakannya karena itu kewajibanku, Yah,” jawabnya panjang lebar.

Entah kenapa, mataku tetiba berembun. Kupeluk tubuh bocah perempuan ini yang masih sering aku bentak jika sedang tak sabar, kuomeli dengan perkataan yang mungkin menyakitinya, kupelototin, atau perbuatan burukku yang lain. Betapa aku jadi harus sadar diri dan ingat jika nasibku kelak saat terkubur di dalam tanah, doa-doanya yang dikirimkan padaku akan menerangi gelap dan pengapnya alam kubur. Gusti Alloh, ampuni hamba-Mu ini :(‘

Mendadak aku jadi terbangun dari harapan muluk-muluk dan harus bersyukur memiliki anak sepertinya. Menerima keberadaannya, dari sisi yang belum baik sekaligus yang terbaik darinya. Aku masih belum yakin benar, apakah yang diucapkannya itu betul berasal dari kesadarannya. Tapi aku jadi ingat Charlotte Mason bilang: Education is atmosphere, that is, the child breathes, the atmosphere emanating from his parents, that of the ideas which rule their own lives (Kristi, 2016:41). Atmosfer ibadah kami hadirkan sebagai sebuah ungkapan rasa syukur sebagai manusia yang mewujud menjadi kewajiban, Sebisa mungkin dengan cara-cara yang tepat baik kondisi fisik dan usia namun tetap mengenalkan asas disiplin. Tidak dengan menakut-nakuti masuk neraka jika tidak melakukannya atau sebaliknya, dijanjikan masuk surga jika melakukannya. Yang kami pikirkan adalah bagaimana menransfer bahwa beribadah adalah bagian dari kebutuhan sekaligus mengenalkan secara bertahap konsep hamba/ciptaan Tuhan yang punya kewajiban menyembah penciptanya.
Dalam beribadah, kami sebagai orang tua memang tidak mewajibkan apapun selama belum berumur 7 tahun. Kalau pun dilakukan, itu sebatas pengenalan dan tidak menanggung konsekuensi apa-apa jika tidak dikerjakan.

Jika diingat kembali, 6 bulan sebelum umur 7, Kaira memang “kusetting” mulai menertibkan sholatnya, terutama sholat Subuh. Jadi dia mulai dibangunkan untuk sholat Subuh. Butuh hampir 4-5 bulan untuk membuatnya bangun tanpa drama pun kami yang membangunkan. Saat umur 7, kukatakan jika dia sudah masuk fase yang lebih “ketat” karena targetnya nanti umur 10 tahun, dia harus sudah kena hukum wajib beribadah. Dia bertanya, kenapa umur 10 tahun?

Ya, aku mendasarkan pada hadist riwayat Abu Dawud sebagai dasar penetapan pelaksanaan ini. “مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ“ “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan salat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”

Sebelum itu, anak-anak memang sudah terbiasa melihat kami orang tuanya sholat sebagai bagian rutinitas ibadah harian. Gampangnya, kalau mau ikut sholat monggo, tidak ya gak papa. Sejak umur setahunan, anak-anak sudah punya mukena/sarung kecil yang bisa mereka pakai saat mengikuti kami sebagai kesenangan/bagian permainan (kan suka pada naik-naik ke punggung atau tiduran di sajadah) 😀 Terutama pada si Kakak, pertama sekali sholat yang paling sering diikuti itu Maghrib, Isya, Dhuhur, Asyar, dan terakhir Subuh. Semuanya bertahap sekali dan satu-satu. Saat lainnya sudah mulai stabil, sembari ditambah satu jenis sholat. Hingga puncaknya yang lumayan menguras emosi adalah sholat Subuh hehe

Termasuk puasa ini, dia mulai menyicipi puasa sejak umur 5 tahun. Awalnya sampai jam 10 pagi dan tahun selanjutnya tambah sampai jam 12 hingga puasa penuh di umur 8 tahun. Dia tetap menjalankan protokol ibadah “khas” selama puasa seperti sahur dan sholat tarawih, yang dijalankan sesuai kemampuan. Lebih memberi pemahaman atas alasan kenapa orang harus sahur saat malas bangun (jika tidak sahur akan mudah lapar dan tidak kuat puasa). Dalam sholat tarawih pun, meski mereka masih punya kelonggaran, mereka “kuwajibkan” ikut sholat Isya dan tarawih dengan rokaat yang bertahap plus witir. Mulai 2, 4, hingga bisa 11 rokaat. Di sela-selanya mereka boleh main dengan syarat tidak berlarian di masjid dan menjaga volume suara tetap rendah, walau kenyataannya tetap saja kedengeran suara ketawa mereka hehe…

Oya kami tidak menerapkan janji hadiah apapun atas segala ibadah mereka. Saat di awal Ramadhan, kami tidak iming-iming nanti kalau puasanya begini akan dapat hadiah ini. Tapi di akhir kadang, kami belikan sesuatu yang diinginkan seperti mainan, alat tulis, atau memberi uang yang boleh dibuat mereka beli jajan bebas (5-10 ribu) sebagai bentuk syukur dan bersuka cita telah berhasil menjalani proses, apapun hasilnya. Lebih ingin memberikan sesuatu yang menyenangkan yang layak dikenang 🙂