Saham Untuk Pemula, Bagaimana Memulainya?

Saat aku mengatakan saham baik melalui perbincangan langsung atau status di media sosial, reaksi yang sering kuterima rata-rata negatif atau seringnya merasa aneh. Ada yang bilang saham itu judi dan haram, atau saham itu investasi bodong yang membuat orang jadi melarat. Ada juga yang merasa takut jatuh miskin karena main saham. Demikianlah yang kuterima.

Namun semua jadi wajar karena kebanyakan yang bilang begitu, kulihat belum mendalami apa itu saham dan bagaimana kerjanya. Masih juga banyak yang menganggap itu seperti jual beli forex yang mendatangkan keuntungan cepat dan besar.

Ternyata, di kalangan lingkar pertemananku sendiri sesama emak-emak, tidak banyak yang mempelajari saham. Sejauh ini, aku baru punya dua-tiga orang teman yang “nyambung” ngomong saham. Di kalangan ibu-ibu pun, saham ini masih jauh dari pilihan saat akan menginvestasikan uang selain menabung di bank, menabung berjangka, asuransi pendidikan, deposito, mengumpulkan logam mulia, atau properti.

Baca juga: Brainstorming Mengelola Keuangan Keluarga

Berkenalan dengan Saham

Aku kenal saham ini sejak awal 2019. berawal dari hastag #yuknabungsaham di instagram. Belakangan aku baru paham kalau gerakan Yuk Nabung Saham (YNS) adalah kampanye yang diselenggarakan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengajak masyarakat sebagai calon investor untuk beinvestasi di pasar modal dengan membeli saham secara rutin dan berkala.

Pemahamanku tentang saham saat itu adalah instrumen investasi yang akan menghasilkan banyak keuntungan tapi sangat besar risiko kegagalannya. Di samping saham itu seperti permainan/judi dan tidak legal. Tapi aku tertarik terus mempelajarinya.

Hingga pada Mei 2019, komunitas Investor Saham Pemula (ISP) Chapter Malang mengadakan sekolah pasar modal mengenai saham syariah. Panitianya masih muda-muda banget, anak-anak kuliahan. Pematerinya juga masih relatif muda namun mumpuni di bidangnya. Saat itu aku diajak Rini yang aku lupa gimana awalnya kami berdua tertarik. Benar saja, pemahamanku yang salah soal saham itu judi dan haram mulai menghilang seiring penjelasan di sana.

Bersama Lucia Priandarini, salah satu teman ibu-ibu yang melek saham

Acara itu berbayar dan bekerja sama dengan sekuritas Indopremier (Ipot). Uang pembayarannya menjadi uang pendaftaran menjadi nasabah Ipot. Per 7 Mei 2019, aku punya RDN (Rekening Dana Nasabah) dengan kustodian Bank Permata. Saat itu masih minim ilmu sekali (sampai sekarang sih hehe). Iseng-iseng beli yang murah meriah. Mencoba beberapa saham di aplikasinya tetapi malah nyantol beli WIKA. Hingga sekarang saham ini masih ada dan tidak kuapa-apakan.

Satu tahun berlalu. Harapan untuk terus menabung saham itu sudah mengada dalam benakku. Meski belum tahu seperti apa teknisnya. Setiap bulan, aku berusaha menabung di rekening tabungan bank atas nama anak-anak. Jika anak-anak dapat uang dari kakek neneknya atau uang angpau lebaran, uangnya masuk tabungan mereka. Namun, rasanya bagiku menabung bukanlah pilihan yang tepat untuk jangka panjang. Potongan administrasi dan bunga yang tidak seberapa jadi pertimbanganku karena gak bikin tambah banyak uangnya tapi sebaliknya. Tapi bukan berarti tidak menabung ya. Itu masih tetap kulakukan sampai batas nominal tertentu lalu kurupakan dalam instrumen investasi lainnya seperti deposito dan beli logam mulia.

Hingga hidayah itu tiba. Berawal mengikuti SPM yang diadakan Mirae Sekuritas, akhirnya salah satu tabungan anak-anak kugunakan membuka rekening efek di Mirae Sekuritas, Syarat sebagai nasabah Mirae adalah memiliki deposit sebesar 10 juta yang nantinya bisa digunakan untuk bertansaksi dalam pasar modal. Mulai 12 Mei 2020 hingga sekarang, aku menabung saham melalui sekuritas ini.

Apa Itu Saham?

Saham itu penyertaan modal kita (perorangan atau badan usaha) pada perusahaan atau perseroan terbatas. Jadi perusahaan yang sudah go public membutuhkan tambahan modal salah satunya dari penyertaan saham dari masyarakat yang disebut dengan investor. Setiap tahun, perusahaan yang sehat dan baik kinerjanya akan bagi hasil keuntungan atau deviden. Besaran deviden yang kita terima tergantung kepada berapa lot yang kita beli. Satu lot berisi 100 lembar saham.

“Enaknya” punya saham itu serupa kita punya perusahaannya itu sendiri. Kita juga berhak datang pada RUPS (rapat umum pemegang saham) walau kita hanya punya satu lot saham saja untuk turut serta memberi suara dalam pengambilan keputusan perusahaan.


Bagaimana caranya beinvestasi saham?

Berinvestasi saham menurutku bertujuan untuk investasi jangka panjang. Bagi yang membeli lalu menjualnya dalam jangka pendek masuk kategori trading (perdagangan) yang jika beruntung mendapatkan capital gain (keuntungan dari selisih harga). Memang ada yang memilih demikian karena saham juga memiliki risiko capital loss (kerugian atas penurunan harga) dan risiko likuidasi jika perusahaan bangkrut.

Cuman ya kembali lagi, tujuan berinvestasinya untuk apa. Jika memang untuk pendidikan anak di pendidikan tinggi atau mempersiapkan dana pensiun, sabar alias tidak bisa instan adalah pilihan tepat untuk berinvestasi saham, Berikut ini hal yang perlu diketahui saat ingin berinvestasi saham.

1, Cari Tahu Sebanyak Mungkin Pengetahuan Dasar Tentang Saham

Pertanyaan ini sering sekali kuterima dari teman-teman yang ingin belajar atau minimal tertarik mengetahui lebih lanjut dengan saham. Paling pertama kusarankan adalah sebanyak mungkin mencari tahu tentang apa dan bagaimana saham itu sendiri. Caranya banyak banget, salah satunya mengikuti IG yang memberikan pengetahuan dasar tentang saham seperti @ngertisaham dengan melihat serial highlight storiesnya dan @investorsahampemula. Lambat laun, akan merambah pada akun-akun lain yang berkaitan dengan investasi dan financial planning. Atau bisa juga melalui chanel Youtube atau buku yang ditulis para financial planner yang kalian percayai. Intinya, banyak sekali ragam cara mendapatkan informasi tentang saham di masa kini asala punya kemauan belajar dan paket data 😀

Selain itu, pahami juga mengenai risiko berinvestasi saham. Semakin besar keuntungan yang ingin didapatkan maka semakin besar pula risikonya. Tapi tenang saja, asal punya bekalnya dan banyak berlatih, pasti lama-lama akan mengenali risiko dan bersiap menghadapinya. Tidak ada investasi apapun yang tidak memiliki risiko. Semua pasti ada risiko masing-masing. Kemampuan dan profil kitalah yang akan menentukan seberapa besar risiko yang siap ditanggung.

2. Mendaftar ke Perusahaan Sekuritas

Tak ada praktik yang sempurna kecuali menunaikan teori yang sudah diketahui. Mulailah memilih perusahaan sekuritas sebagai perantara perdagangan efek yang kalian anggap tepercaya dalam kinerjanya, kemudahan operasionalisasi online trading untuk jual beli sahamnya, dan terdaftar sebagai anggota BEI serta telah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Oya yang menurutku penting lainnya adalah fee transaksi yang dibebankan pada investor gak besar-besar amat dan saat kita butuh bantuan, mereka mudah dihubungi dengan fasilitas telepon/WA real time. Juga tak kalah penting lagi, sekuritas punya tim analis handal serta punya program edukasi untuk investornya.

Setelah itu mendaftarlah ke perusahaan sekuritas. Kalian bisa cek di sini, daftar sekuritas resmi dan bisa daftar online. Jika ingin lebih lengkap melihat profil semua sekuritas yang terdaftar di BEI, bisa lihat kemari. Untuk persyaratan mendaftar, kalian perlu menyiapkan KTP, sampul buku tabungan, dan sebaiknya punya NPWP.

Oleh perusahaan sekuritas, kalian akan dibantu untuk pembukaan rekening efek/Rekening Dana Investor (RDI) yang digunakan untuk bertransaksi di pasar modal, Prosesnya lumayan lama, hampir sebulanan kalau aku. Jika sudah jadi, kalian bisa siap bertransaksi di pasar modal dengan menyetorkan dana di RDI kalian.

Yuk Nabung Saham (sumber: http://yuknabungsaham.idx.co.id)

Menabung Saham, Bagaimana Caranya?

Sebagaimana ajakan BEI melalui YNS, aku memang menjadikan saham sebagai investasi jangka panjangku. Saat memilih saham apa yang bisa menjadi tabungan, tentu harus pandai memilih saham-saham yang memiliki fundamental bagus. BEI setiap waktu berkala, telah merilis berbagai indeks saham untuk memudahkan para investor memilih saham. Di antaranya adalah LQ45 yakni daftar yang berisi 45 saham terpilih dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar yang tinggi dari jumlah keseluruhan saham yang ada di BEI. Orang-orang bilang saham LQ45 disebut saham blue chip.

Jadi yang kulakukan saat akan membeli saham adalah melihat daftar Saham LQ45 ini. Terus gimana nabungnya kalau yang disisihkan tidak seberapa? Ada loh saham blue chip murah misalnya SRIL yang harga satu lotnya sekitar Rp 20.400. Jadi jika nabung Rp 100rb, kalian bisa dapat empat lot saham SRIL. Atau misal BJTM, harga per lot Rp 58.000. Ya lumayan kan duit seratus ribu bisa jadi pemilik BUMD Pemprov Jawa Timur hehe…

Atau mengikuti saran dari @Ngertisaham, kalian bisa beli saham dari produk yang biasanya digunakan. Misalnya biasa pakai shampo Sunsilk, sabun mandi Lifebouy, sabun cuci piring Sunlight, bisa beli saham UNVR. Atau biasa mengkoleksi LM Antam, sekalian beli saham ANTM. Atau suka beli indomie, bisa pilih ICBP atau INDF.

Mulailah dari yang kecil. Nanti jika sudah semakin mahir dengan melihat segala perkembangan ekonomi berikut mempelajari fundamental perusahaan, tambah lagi emiten yang kalian inginkan. Tentu setiap orang punya preferensi sendiri-sendiri mau fokus di sektor saham apa misalnya finance, mining, consumer good, dsb.

Setidaknya, saat ingin menabung saham, uang kalian sudah masuk dulu ke RDI. Atau saat punya tambahan dana investasi misalnya dari THR, bonus, dll, kalian bisa sisihkan pula untuk menambah saldo membeli saham. Jika sudah konsisten menabung saham, rasanya akan merasa sayang sekali jika uang yang kita miliki digunakan untuk menambah fasilitas gaya hidup yang gak penting. Sejak kenal saham,keinginan untuk “foya-foya” tiada guna mulai berkurang drastis. Hidup secukupnya, nabung saham, yang kuyakin fundamentalnya bagus, sebanyak-banyaknya. Aku sih sekarang ingin terus dan terus membeli saham apalagi saat “saham sultan” sedang jatuh/koreksi harga sebelum naik kembali.

Tak ada kata terlambat. Yang ada adalah semakin tertinggal jika tidak segera memulai untuk berinvestasi karena pada dasarnya investasi adalah waktu itu sendiri 🙂

Baca juga: Keinginan, Apakah Sumber Penderitaan?