Mengenang Renang yang Akhirnya Senang

Siapa yang sampai tua begini gak bisa renang? Ngacuuung hayo… Lihat air aja takut apalagi nyemplung? Dan mesti ngeles bilang gini kan: aku bisa renang gaya batu! Wkwkwkkk…

Aku bisa renang itu semasa kuliah. Awalnya karena sering ke Tlogomas bareng teman-teman. Setiap akhir pekan, di sana ada les renang. Dan aku akhirnya bisa, bukan karena les di sana tapi karena aktif mendengarkan instruksi pelatih pada muridnya, dari sisi yang lain alias curi dengar wkwkkkk…. Gak niat begitu sih tapi karena lihat lalu dipraktikkan sendiri dan voila, bisa bolak-balik mengitari kolam. Yeay! Tentu di bagian pinggir dulu ya..Kalau berasa capek kehabisan nafas, tangan tinggal meraih tembok pinggiran kolam hehee

HIngga saat ini pun, kalau pertama nyebur, aku selalu memilih di pinggir. Kalau sudah dirasa cukup pede, baru bebas kemana pun dengan kedalaman berapa pun. Pokoknya pas di kedalaman lebih dari dua meter, jangan berhenti di tengah wkwkkk

Berdasar pengalaman ini, sebagai ibu, aku ingin anakku bisa renang lebih dini. Saat anakku kutawari, gak mau dong haha…Takut airnya tertelan lah, masuk telinga lah, tenggelam lah haahaa…Tapi akhirnya mau juga setelah kujelaskan manfaatnya dan bareng-bareng dengan sesama teman komunitas homeschoolingnya. Jadilah dipilih hari yang antimainstream untuk latihan selain weekend yang kemriyeks kaya cendol xixiii

Kaira saat itu baru gabung dengan komunitas HS, Klub Pemberi (Pembelajar Mandiri) setelah memutuskan tidak melanjutkan SD paska lulus TK. Fase deschoolingnya kuisi dengan aneka kegiatan outdoor juga pembentukan karakter di rumah. Lalu renang dipilih sebagai aktivitas yang ditujukan mendukung tujuan kami sebagai orang tua.

Ada kejadian tidak sengaja sebenarnya saat ingin ikut les renang dan seolah menjadi semesta merestui 😀 Saat itu sekitar Agustus 2018, sepulang latihan pramuka di lapangan Rampal seperti biasa. Di sana ada kolam yang baru dibangun di area milik tentara itu. Lalu isenglah bertanya kepada petugas di sana, apakah terbuka untuk umum dan menyediakan les renang. “Iya bisa, saya pelatih renangnya,” jawab pak tentara, yang belakangan dikenal dengan panggilan Pak Kris. 10 Agustus 2018, Kaira dan 8 teman lainnya perdana latihan renang di sana bersama Pak Kris yang melatih anak-anak dengan sabar. Meski seorang tentara, gak ada yang langsung mogok saat dilatih beliau. Dalam perjalanannya, ada Coach Wulan yang tandem dengan beliau hingga akhirnya Pak Kris pindah tugas. Coach Wulan dulunya adalah atlet renang.

Kolam masih soft launching dan airnya masih hijau karena belum dikasih obat hehe

Setelah diskusi dengan teman-teman, akhirnya diputuskan sepakat renang di sana. Kupikir, kelompok kami adalah kelompok awal yang mendaftarkan diri jadi member grup renang hehe (ini klaim berdasarkan belum ada yang les renang di sana). Bahkan saat itu klub belum ada namanya loh hehe

Selama hampir setahun, dengan aneka libur di sana sini plus puasa dan lebaran, Kaira les renang di sana dengan standar minimalis karena hampir semua orang tua di komunitas kami sepakat, les renang ini agar anaknya bisa renang, bukan menjadi atlet renang. Dalam perjalanannya memang ada yang mundur karena dirasa tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pribadi. Hingga akhirnya hanya anakku saja yang menjadi kloter terakhir karena sudah kadung bayar sebulan full wkwkk…

Kalau Mikhail mulai ikut les perdana pada 15 Januari 2019. Dia mau ikut kalau sudah berumur 5 tahun. Ini adalah aktivitas rutin luar rumahnya bersama dengan mengajdi TPQ setiap sore. Nah, berhubung semua teman berhentiles dan kami males kalau mau lanjut sendiri hahaa…Tau sendiri lah ya, saat menunggu anaknya renang, ibu-ibunya gelar tikar sambil ngeluarin aneka camilan dan makan siang 😀 Rasanya sepi tiada arti tanpa itu semua wkwkkkk

Latihan perdana Mikhail bersama Coach Wulan di kolam besar

Menurutku, terutama Kaira, selama latihan progresnya lambat. Dia masih sering lupa gerakan yang benar, dua kali mendayung lalu berhenti, motivasinya rendah alias kebanyakan bilang capek haha…Hampir sama dengan Mikhail sih, tapi dia lebih karena gak tahan dingin. Jadi latihan bentar lalu berjemur di lantai kolam (tepok jidat wkwkk) Memang sih, anak siapa yang bisa menolak kenikmatan bermain saat bersama teman? 🙂 Pasti jadi pelatihnya selama itu bingung nih…ngajarin yang satu, satunya main..Gitu terus haha… Terima kasih banyak ya Coach Kris dan Coach Wulan sudah mengajari anak kami berenang _/\_

HIngga kemarin (7/2/2020), kedua anakku renang lagi. Bukan yang pertama setelah sekian waktu tidak renang sih..Tapi rasanya itulah pertama kali kulihat anakku bebas, lepas, berani, percaya diri, dan menunjukkan skill-nya kalau mereka mulai bisa menguasai diri di air. Kaira mau kuajak berenang di kolam dewasa tanpa pelampung atau drama ini itu (love you, Kak :*) dan Mikhail juga santuy nyemplung dan main di kolam kecil bersama teman-teman kakaknya. Tak ada lagi takut air. Bahkan Mikhail sengaja memanggilku saat dia mau show off bisa meluncur wkwkkk.. Belum bener banget gerakannya sih tapi aku mengapresiasi keberaniannya. Good job, Naknyo!

Sungguh, buatku yang selama ini menemani mereka berproses belajar apapun, ini benar-benar membuat hatiku mengembang: terharu sekaligus membahagiakan. Terlebih lagi, aku bahagia karena masih bisa bersyukur atas segala pencapaian kecil/sedikit demi sedikit yang mereka bisa. Aku menikmati betul proses mereka dari yang tidak bisa sama sekali hingga mulai bisa. Bukankah setiap pencapaian sekecil apapun perlu diapresiasi? Bagiku iya, dan itulah senyatanya dukungan terbesar orang tua pada anaknya.

Bersama sebagian kecil anggota Kelompok Belajar (Pokjar) Klub Pemberi paska berenang (Pictured by MomFir)