Menyerap Atmosfer Belajar Sejarah Via Tournee (1)

Spread the love

Sebagai keluarga yang memutuskan diri belajar di rumah (homeschooling/HS), materi belajar Sejarah terutama sejarah lokal/dalam negeri adalah hal yang sejauh ini menurutku kurang banyak referensinya atau kurang memadai. Apalagi sebagai penganut metode Charlotte Mason (CM) yang punya “standar” seperti apa buku yang layak baca, dan biasa disebut living book, buku sejarah ala sekolah yang ada rasanya belum bisa menimbulkan gairah belajar. Ingat sendiri kan ya, seperti apa buku sejarah kita zaman jadi anak sekolahan yang tidak jauh dari menghafal angka tahun dan kejadian. Sangat membosankan. Dan kebetulan dalam metode CM, Sejarah diperkenalkan sejak year 1. Meski yang diberikan adalah materi sejarah dunia tapi kupikir bagus juga untuk membentuk wawasan global dunia ada dalam alam pikir anak kita, hingga dia tahu darimana asalnya dan sampailah dimana posisinya berada.

Think Globally Act Locally, Begitu kira-kira maunya nanti belajar melalui sejarah. Belajar yang bersifat lebih besar dan luas untuk lantas bisa lebih bisa bermanfaatkan diri dari hal kecil. Namun memang diakui, hingga hari ini belum nemu buku sejarah lokal apa yang pas buat kami, Barangkali pembaca ada yang ingin merekomendasikan bacaan sejarahnya, bolehlah sharing dimari hehehe

Hingga suatu hari, Fransisco, seorang kawan sejarawan, memosting rencana kegiatannya membuat semacam tour sejarah. Memang spesifik yang ingin dihadirkan tapi bagiku ini seperti oase di padang pasir! Aku butuh ikut kegiatan seperti itu *-*
Melihat tempat yang ditawarkan didatangi, sungguh kutertarik ingin mengetahui sejarahnya lebih lanjut. Hampir 20 tahun tinggal di Malang, tidak semua tempat kutahu sejarahnya meski sering melewati.

Fransisco, pakai kemeja luar biru. Sejarawan, penulis, dosen, plus jomblo :p

Saat lihat biayanya, yaah kok mahal sih wkwkkk… Tapi melihat tema dan tempat yang ditawarkan, wes lah duit dipikir mburi! You know lah, Februari ini harus diakui bulan penuh dengan wisata terop :p Juga untuk di Malang, rate segini belumlah umum.

Tour Sejarah Tjamboek Berdoeri

Aku sengaja mengajak Kaira (tapi minta gak bayar :p) karena kupikir nanti ada snack atau kendaraan, bisa kusharing sama dia. Kebetulan, Kaira antusias ikut saat kutunjukkan flyer acaranya. Pada titik itu, aku tidak berekspektasi apa-apa misalnya dia langsung bisa belajar memasukkan semua informasi yang didapatnya tapi hanya lebih ingin mengajak dia masuk dalam atmosfer belajarnya. Aku ingin langsung sharing dan dalam energi atmosfer yang sama untuk belajar. Kuharap suatu saatnya tiba, dia langsung nyambung dengan memori ini. Kalau pun tidak ada yang nyantol, setidaknya dia mengingat kami berdua pernah hang out bareng sekedar girl’s day out tanpa para cowok di rumah 😀

Pose dulu berdua di depan Balaikota Malang sebelum acara dimulai

Alhamdulillah, sepanjang acara, Kaira bisa menyesuaikan diri. Tidak banyak mengeluh saat diajak jalan agak jauh dan panas. Dia sempat minta beli bakpao di Blok M alias Jalan Majapahit. Dia sempat tertidur dalam perjalanan dari Klenteng Eng Ang Kiong menuju Kompleks Cor Jesu, Kami duduk berdua di depan naik angkot sebagai transportasi yang disediakan panitia.

Kaira otomatis jadi peserta paling kecil di antara semua peserta yang beraneka macam profesi seperti jurnalis, seniman, ASN, pengacara, dan lainnya yang tidak sempat kukenali karena di awal acara tidak ada acara perkenalan masing-masing peserta. Jadi kenalannya sekedarnya saja selama di sela-sela waktu luang/istirahat tournee yang padat. Juga, aku jadi banyak mengobrol soal homeschooling karena kebetulan kami (terutama punya Kaira yang kelihatan tulisan dan gambarnya) pakai kaos Homeschooler Indonesia yang dibuat oleh Perkumpulan Homeschooler Indonesia (PHI). Yeah, semacam, kata Mbak Ellen Kristi, jadi jurkam soal apa dan bagaimana HS itu.

Btw, gara-gara di flyer ini, aku jadi gugling arti tournee dan menemukan artikel ini. Tournee berasal dari Bahasa Belanda yang artinya tur atau anjangsana, mirip blusukan yang dipopulerkan (kembali) oleh Jokowi. Hanya saja, blusukan sifatnya santai dan informal, berkebalikan dengan tournee yang formal dan instruktif. Lema ini juga menjadi antonim dari “duduk di belakang meja”. Konon, di awal abad ke-19, para bupati di masa itu melakukan hal ini untuk melihat kondisi rakyatnya. Lalu, agar tidak dinilai jalan-jalan semata maka mereka berkewajiban menuliskan hasil kunjungannya ini dalam sebuat tulisan. Makanya, aku jadi semakin terintimidasi agar segera menuliskan pengalamanku iku kegiatan ini 😀

Tentang siapa Tjamboek Berdoeri dan akhirnya kemana saja kami kunjungi, ada di tulisan berikutnya ya… 🙂